"Kapan Kawen?"

Saat kemarin bertemu dengan teman-teman yang sudah terlebih dahulu melangsungkan pernikahan – pembahasan jadi tidak jauh-jauh dengan tetek-bengek printilan bahkan masalah yang berbau Ranjang, eh map. Nganu. Bukan itu Maksudnya. Tetapi yang berbau dapur. Au amat. Bambank! 

Kebetulan salah satu dari kami juga akan melangsungkan pernikahan. Aku saat itu (lagi-lagi) hanya sebagai pendengar yang baik. Sesekali berpendapat, sesekali ikutan tertawa, sesekali bahkan sok-sok menasehati ala Marie Ri(rin)ana Padahal kalau dibilang-bilang, siapa elu sih Rin – Kawin aja belom. Untungnya teman-temanku itu entah kenapa selalu menanti jika aku berpendapat. Ah, engga sih. Aku lagi menyenangi diri sendiri aja. 

Bagi wanita yang sudah melewati usia seperempat abad di Indonesia ini adalah tantangan tersendiri. Banyak orang yang akan sok peduli dengan hidup kita, banyak orang yang akan lebih vokal mengungkapakan pendapat dengan lebih tajam. 

HEH 



Ya-Ya-Ya. Fase itu sedang aku lewati, bahkan dari awalnya biasa saja, bisa jadi Luar biasa kena kehatiku. Sampai ada kalimat yang sangat tajam, bisa terus teringat dikepalaku. Berlari dan bermain petak umpat. Tiba-tiba mengagetkan kembali. 

Dor  ! Kapan Kawin Kampret?! 

Hingga suatu ketika, aku bersuara lirih ketika berbincang dengan mama. 

Sedih ceritanya.


Ririn : "Ma, mama suka sedih, khawatir atau kepikiran gak kalau aku umur segini belum nikah?"

Mama : "Ngapain? Engga kok. Jodoh itu kan rejeki dari Allah. Mama Cuma berdoa semoga kelak kamu dapat pria yang bisa bertanggung jawab buat kamu. Kenapa kamu takut? 

"Lemah!" -  Dibalikin doong* 

Ririn: "Iya, aku mah lemah... Mama aja yang kuat sendiri.... :P 

Seketika hening. Kalau aku bisa menitikan airmataku saat itu, aku lakukan. Tapi, aku hanya tersenyum dengan penguatan mama. Mama emang engga pernah ngotot aku harus nikah umur berapa. Akupun sangat mensyukuri itu. 

Mama bilang : “Yang penting anak mama bahagia!” 

Setelah percakapan itu, malah jadi aku yang sedih. Aku takut sekali ketika aku menikah aku akan meninggalkannya seorang diri. Memulai fase baru dengan pria yang aku pilih.  Aku bahkan sangat takut meninggalkannya sendiri, kalau aku membayangkannya – aku bergidik dan itu adalah konsekuensi yang mungkin akan terjadi. Siap engga siap. 

(Aku takut elusan tangan suamiku kurang pas saat garuk punggungku sebelum tidur) 

Belum lagi, Fase ditempat kerja. Belum menikah ini kadang menjadi hal-hal yang menyenangkan bagi orang sebagai kambing hitam dalam pergesekan di lokasi kerja. Bisa dijadikan bahan fitnah kalau kita tidak pintar-pintar mengatur semuanya. Cuma makan siang sama atasan, bisa jadi fitnah. Ngobrol biasa dengan laki-laki yang kebetulan akan menikah bulan depan – lebih banyak gue yang dinasehatin ketimbang lelakinya. Padahal, apa sih arti bercakap di lingkungan kerja berdua? Hampir semua orang melakukannya. Kalian kenapa panik? Ia aku tahu, aku cantik. Insecure kalian ya… 

Semuanya gegara aku. 

Yang Cantik, aku!
Yang Cerdas, aku! 
Yang Kaya, aku! 
Yang Tinggi, langsing, putih, hidung mancung, rambut panjang hitam legam, aku! 

(muntah, jangan?) 

Kemudian, ada hal yang sebenarnya baik-baik saja. Namun bisa jadi sangat menyenangkan untuk bahan gunjingan masyarakat +62. Berikut kira-kira ada beberapa kalimat yang sering bermunculan ditengah ketawa-ketiwi yang sebenarnya gak lucu, tapi ya daripada kasian engga ada yang ketawa. Gue nyengir kambing aja. 

Image result for nyengir kambing
oouh, he-he-he - Lucu ya, he-he-he . mmuah


1. “Engga ada kali cowo yang mau sama lo ! ” 

(Oke, biarlah engga ada cowok yang mau sama gue. Gue masih hidup juga, hidup gue baik-baik saja, masih menyenangkan juga, makin bersinar dan gue berkesempatan melakukan apapun. Kenapa emang kalaupun engga ada yang mau sama gue? Hidup andyah makin kaya emang ?  - engga shayy ..

2. “Lo mungkin pilih-pilih!” 

(Iyalah, gue kudu pilih-pilih. Siapa juga yang mau ‘beli kucing dalam karung’ ) - Gue takut kucing anw. 

3. “Lo kurang cantik!” 

(Cantik tuh yang kekmana sih? Relatif. Kalaupun gue engga cantik dan engga ada yang mau sama gue karena gue engga cantik, yang gpp juga. Kasian dia kalau hanya suka gue karena gue cantik aja. Entar kalau gue ada di fase “jelek” udah tahu kekmana endingnya – Nangis pula dia, berdarah ). 

Oke, baik.

Sekarang aku ingin menyetujui hal-hal berikut ini tentang pernikahan. 

Serius nih. 

Aku gak suka, kalian banyak bercanda! 

..
..
oke mulai. 

Guys,, 

Pernikahan adalah fase pilihan dalam hidup. 

Namanya pilihan, itu bisa kamu lakukan atau tidak. Namun sebelum masuk fase ini, kamu akan dibantu Tuhan untuk masuk kedalam fase bertemu dengan jodoh, yang kemungkinan bisa membuatmu jatuh cinta, bisa membuatmu merasa tepat untuk masuk ke fase pernikahan itu sendiri. 

Namun, ada hal yang harus kita tahu, 

Bahwa menikah bukanlah lomba. Siapa cepat dia pemenangnya. Siapa yang bisa melangsungkan pernikahan diantara kawan yang lain diusia yang muda lebih dulu, bukan berarti dia pemenangnya, bukan seperti itu. 

Pernikahan adalah pergerakan ‘tangan tuhan’ yang telah Ia atur sedemikian rupa, sebab layaknya doa yang selalu kita pinta :

“Tuhan, beri aku yang terbaik. Waktu dan orang yang terbaik, sesuai apa yang Engkau tahu” – 

maka, kita harus sadar. Seberapa indah rancangan manusia, Rancangan Tuhan lebih baik dari apapun. Jadi, mau sengotot apapun kita – kalau belum saatnya, kau mau apa? Marah-marah dengan doa yang mengancam. 

Mohon maap. Tuhan tidak bisa diancam. 


Pernikahan bukanlah jalan untuk bahagia.  

Banyak orang yang bilang, kalau susah – ingin menikah saja. Seakan menikah dapat menyelesaikan segala kesusahannya. Mana ada. Menikah adalah amanat baru, fase yang pasti lebih tinggi. Sesuatu yang tinggi levelnya, ada tuntutan yang lebih tinggi juga untuk dijalani.  Hanya saja, (MUNGKIN) ketika menikah – masalah yang ada jadi tidak diselesaikan sendiri. Kita bisa punya teman untuk bertukar pendapat, punya rekan bersama-sama menyelesaikan masalah yang ada. Sehingga, rasa itu bisa membuat kita mensyukuri kehadiran pasangan.

Tapi, kalau dengan menikah dan masalah tidak ada sama sekali. Itu bodoh namanya. 

Pernikahan adalah fase baru. 

Ketika kita sudah mantap untuk memasukinya. Maka kita sudah harus tahu bahwa kita akan menemukan hal-hal yang baru. Salah satunya,  Kita akan belajar dengan kekurangan dan kelebihan pasangan. Nah, kalau saja kita tidak bisa mencintai diri kita sendiri, bagaimana bisa mencintai kekurangan dan kelebihan pasangan kita. 

Kau tahu? 

Sebelum menikah, kau pasti sudah melihat beberapa kekurangan orang yang akan kau nikahi. Maka, jangan sampai tujuan menikah akan merubah orang tersebut. 

Ingat! Orang mau berubah bukan karena orang lain. Ia berubah, karena dirinya sendiri mau berubah. Itu yang benar. 

Jadi, kalau sudah tahu nanti calon istrimu, tidak bisa masak. Kau harus tahu konsekuensinya. Jika kalau sudah tahu calon suamimu merokok, jangan langsung memaksanya berhenti merokok. Butuh waktu. Sebab sebelum nikah aja kalian udah tahu dia merokok. Jangan sampai ketika menikah, maksa-maksa kudu besok (gak mau tau ya- atau kamu tidur diluar!) – untuk sekejap gak merokok lagi. 

Ah ELAH .. Gitu aja kudu gue bilangin lu ah Jamileh. 
….
Trus jadi gimana perasaan kamu Sekarang?

Aku sendiri sangat menikmati fase belum menikah ini. Aku masih bisa jalan-jalan kemanapun aku mau. Aku masih bisa belajar apapun yang aku suka, aku masih punya kesempatan berbakti dengan orangtuaku sebelum suamiku dan banyak lagi. 

Bukan, bukan berarti setelah menikah aku tak bisa melakukan semuanya. Semua temanku yang sudah menikah, katanya ada banyak hal yang harus disadari yang tak bisa semau-mau layaknya sebelum menikah. Dan aku menyetujui itu.  

Nah, jika suatu ketika ..

Calon jodohku yang entah berada dimana. Yang sudah membiarkan menunggu. Yang sudah membuatku jadi lebih pintar dan kreatif dalam merangkai kata-kata jawaban akan pertanyaan para tetangga “kapan kawin?” akan datang besok. Kau tau aku mau apa? Akan kumarahi dia dengan logat Medanku. 

“Lama pula kau bejalan, macam tak bisa ngebot pula kau ya - Petuah punya Budak.. ”

Kemudian ku pegang tangannya, ku pelok dia ya, Kucium dia. 

Ayok Kawen, Baaaangggg !

Anjaaaaay! GATEL ! 

Engga-engga seperti itu. Imajinasi aja. Serah gue sih. Imajinasi-imajiinasi siapa?*

Jadi teman-teman. 

Jika nanti Tuhan sudah mempertemukan kita dengan jodoh kita. Membuat kita jatuh dan mencinta, Syukur-syukur jatuh cinta dengan getaran-getaran geragas mengalir di pembuluh darah yang bikin kita jadi gerah.  Mari kita menikmati setiap fase ini.

Sebab, seperti apa yang kita panjatkan ketika berdoa. 

“Tuhan, sebab kuasa-Mu – Lebih indah daripada imajinasiku” –

Maka, aku takkan mengkhawatirkan kapan aku kawin. 

Palingan : 


(Kira-kira, besok bisa ga, Tuhan?) 

HE-HE-HE 

Thankyou.
Jangan lupa tinggalkan komentar kamu! 
Ririn. 

4 komentar